Oleh: Prof. Akh. Muzakki
Dekan FISIP UIN Sunan Ampel

PILKADA serentak 2015 ibarat suara tokek. Siapa pun yang menyimak suara tokek akan selalu mendapati jeda di antara ’’nyanyian’’ suara tokek itu: tokek...[berhenti]…tokek… [berhenti]…tokek…, dan seterusnya. Tidak ada satu pun di antara penyimak yang bisa memastikan kapan suara tokek itu berhenti. Atau, berapa kali tokek itu ’’bernyanyi’’.

Begitu pula proses pelaksanaan pilkada serentak tahun ini. Publik memang bergembira dengan fakta bahwa mayoritas daerah yang masa jabatan kepala daerahnya habis pada 2015 dan awal semester 2016 akan menyelenggarakan pilkada serentak pada akhir 2015 ini.

Oleh: Muhammad Ilyas Rolis
Kalab FISIP UIN Sunan Ampel

Sektor informal, dengan segala keterbatasan dalam dirinya tersimpan kekuatan luar biasa sebagai penyangga ribuan bahkan jutaan kelangsungan hidup warga. Dalam banyak penelitian, sektor ini mampu menjadi tempat berlindung hingga mencapai 70 persen tenaga kerja di Negara sedang berkembang. Di kota-kota sedang seperti Kota Probolinggo juga menunjukkan trend yang sama, mengalami kenaikan tiap tahunnya. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan sektor informal yang mudah menyerap tenaga kerja yang memiliki skill rendah serta memiliki kelenturan tinggi bagi siapapun yang ingin mengais rezeki didalamnya.

Para pekerja yang bergerak dalam sektor informal memiliki kerentanan yang tinggi karena tidak memiliki proteksi yang memadai baik dari sisi ekonomi, sosial maupun politik. Sektor informal bergerak dalam usaha perdagangan seperti pedagang asongan, penjual bakso, dan PKL serta jasa pengangkutan seperti tukang ojek dan tukang becak, yang menjadi sandaran hidup diri dan keluarganya. Kenaikan harga BBM sejak bulan Mei 2013 ini tentu memiliki efek yang turut mengantarkan mereka ke dalam kerentanan yang lebih dalam lagi.

Oleh : Prof. Akh. Muzakki
Dekan FISIP UINSA Surabaya

HARI-HARI ini saya menerima serangkaian pesan pendek melalui telepongenggam. Substansinyaratarata mengungkapkan keprihatinan atas kegaduhan Muktamar Ke-33 NU di Jombang. Ini salah satunya: Prof, gimana muktamar NU kok rusuh terus? Memprihatinkan. Yang lain: Gimana update muktamar? Apa benar deadlock?.

Memang, publik menyimak kegaduhan muktamar NU itu. Bahkan, Jawa Pos (3/8/2015) membandingkan pelaksanaan Muktamar NU di atas dengan Muktamar Ke-47 Muhammadiyah di Makassar. Judul laporannya menarik: Nahdlatul Ulama Gaduh, Muhammadiyah Teduh.

Tags: ,